Berita Teraktual dan Tajam
Beli Tema IniIndeks
banner 728x250

Purbaya Diganti Suahasil, Dosen FEB Unkhair Soroti 5 Titik Rawan Fiskal: Jangan Sekadar Ganti Menteri!

banner 120x600
banner 468x60

Purbaya Diganti Suahasil, Dosen FEB Unkhair Soroti 5 Titik Rawan Fiskal: Jangan Sekadar Ganti Menteri!

Liputan24.com|TERNATE — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara bukan sekadar pergantian kursi dalam kabinet. Posisi tersebut merupakan salah satu simpul terpenting yang menentukan bagaimana negara mengelola uang publik, membiayai pembangunan, menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus menghadapi tekanan fiskal.

banner 325x300

Karena itu, pergantian tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Khairun.

Mohammad Hasnin dan Muhammad Jaiz M. Samiun menilai Suahasil Nazara tidak boleh hanya hadir sebagai penerus administrasi. Menteri Keuangan baru harus mampu menunjukkan bahwa pergantian tersebut membawa koreksi dan perbaikan terhadap kebijakan fiskal nasional.

“Jangan sampai yang berubah hanya menterinya, sementara persoalan fiskalnya tetap sama,” menjadi salah satu catatan penting yang disampaikan dalam pandangan kedua akademisi tersebut.

Pertama: APBN Jangan Sekadar Besar, Harus Berkualitas

Mohammad Hasnin menilai ukuran keberhasilan APBN tidak boleh berhenti pada besarnya anggaran maupun tingkat realisasi belanja.

Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap rupiah uang negara menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.

“APBN jangan hanya dilihat dari berapa besar anggarannya dan berapa persen yang terserap. Yang lebih penting adalah output dan outcome-nya. Apa dampaknya terhadap masyarakat?” ujar Hasnin.

Ia mendorong Menteri Keuangan baru memperketat evaluasi belanja negara, terutama terhadap program yang memiliki anggaran besar tetapi dampak ekonominya belum optimal.

Kedua: Penerimaan Negara Jangan Terus Menjadi Persoalan

Tantangan berikutnya adalah penerimaan negara.

Muhammad Jaiz M. Samiun menilai pemerintah membutuhkan strategi memperluas basis penerimaan tanpa menjadikan dunia usaha dan masyarakat sebagai objek pemungutan semata.

“Meningkatkan penerimaan memang penting. Tetapi jangan sampai pendekatannya hanya mengejar target penerimaan tanpa melihat kemampuan ekonomi masyarakat dan dunia usaha,” kata Jaiz.

Menurutnya, optimalisasi penerimaan harus dibarengi dengan perbaikan administrasi, perluasan basis pajak, pemberantasan kebocoran dan peningkatan kepatuhan.

Ketiga: Pembiayaan Negara Harus Dihitung Sampai Generasi Berikutnya

Persoalan pembiayaan juga menjadi titik perhatian.

Jaiz mengingatkan bahwa pembangunan membutuhkan pembiayaan, tetapi setiap keputusan fiskal harus mempertimbangkan keberlanjutan dalam jangka panjang.

“Yang harus dipikirkan bukan hanya bagaimana kebutuhan pembiayaan hari ini terpenuhi, tetapi bagaimana konsekuensinya terhadap APBN beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah harus menjaga agar kebutuhan pembiayaan tidak mengurangi ruang fiskal negara pada masa mendatang.

Keempat: Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Masyarakat

Hasnin memberikan catatan bahwa indikator makro ekonomi tidak boleh dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi, investasi dan berbagai indikator positif harus memiliki hubungan dengan peningkatan daya beli, kesempatan kerja dan aktivitas sektor riil.

“Jangan sampai angka pertumbuhan ekonomi terlihat bagus, tetapi masyarakat masih merasakan tekanan ekonomi. Kebijakan fiskal harus menjembatani indikator makro dengan kondisi ekonomi riil,” tegas Hasnin.

Menurutnya, APBN harus mampu menjadi instrumen untuk memperkuat sektor produktif, bukan sekadar membiayai aktivitas pemerintah.

Kelima: Kepercayaan Tidak Boleh Dipertaruhkan

Muhammad Jaiz menilai aspek kepercayaan menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting.

Pergantian Menteri Keuangan akan diamati oleh investor, pelaku usaha dan masyarakat. Karena itu, Suahasil harus memberikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten.

“Pasar membutuhkan kepastian. Dunia usaha juga membutuhkan kepastian. Pemerintah harus menjelaskan arah kebijakannya secara transparan sehingga tidak muncul ketidakpastian baru,” kata Jaiz.

Menurutnya, komunikasi fiskal yang buruk dapat menimbulkan persepsi negatif meskipun kebijakan pemerintah sebenarnya memiliki tujuan yang baik.

Suahasil Punya Modal Pengalaman, Tapi Ekspektasi Juga Tinggi

Suahasil Nazara memiliki pengalaman panjang di lingkungan Kementerian Keuangan. Justru karena itu, menurut kedua akademisi FEB Unkhair tersebut, ekspektasi publik terhadapnya tidak kecil.

Suahasil diharapkan tidak membutuhkan waktu terlalu panjang untuk memahami persoalan internal kementerian.

Hasnin menilai pengalaman tersebut harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk mengevaluasi kebijakan.

“Kalau ada kebijakan yang tidak efektif, jangan takut untuk melakukan koreksi. Kebijakan ekonomi harus fleksibel terhadap perubahan kondisi,” katanya.

Sementara Jaiz menekankan pentingnya keberanian mengambil keputusan berdasarkan data.

“Menteri Keuangan jangan hanya menjadi administrator APBN. Ia harus menjadi pengarah kebijakan fiskal yang mampu membaca risiko dan mengambil keputusan sebelum persoalan menjadi lebih besar,” ujarnya.

Pertanyaan Besarnya: Apa yang Berubah?

Pada akhirnya, pergantian Purbaya kepada Suahasil akan diuji oleh satu hal: hasil.

Masyarakat tidak akan menilai pergantian tersebut hanya berdasarkan seremoni pelantikan atau pernyataan politik.

Yang akan dilihat adalah apakah penerimaan negara membaik, kualitas belanja meningkat, pembiayaan semakin sehat, dunia usaha memperoleh kepastian, dan ekonomi masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat.

Karena itu, lima titik rawan yang disoroti Mohammad Hasnin dan Muhammad Jaiz M. Samiun menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi Menteri Keuangan baru.

Jangan sampai pergantian menteri hanya menghasilkan perubahan nama di kabinet. Yang dibutuhkan masyarakat adalah perubahan kualitas kebijakan.

Kini publik menunggu langkah Suahasil Nazara.

Apakah ia hanya akan meneruskan apa yang sudah ada, atau berani melakukan koreksi terhadap kebijakan fiskal yang membutuhkan pembenahan?

Jawabannya bukan di podium.

Jawabannya akan terlihat di APBN, di sektor usaha, di pasar, dan terutama di kehidupan ekonomi masyarakat.

Editor(Haeril J )

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *