LAMONGAN / SURABAYA, Liputan24.com – Pengurus Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) menyampaikan kecaman keras dan keprihatinan mendalam atas insiden kekerasan berupa pembacokan yang menimpa dua warga PSHT di Surabaya. Kedua korban saat itu sedang bekerja mencari nafkah halal sebagai petugas parkir, namun justru menjadi sasaran tindakan brutal oknum yang mengaku sebagai penagih utang.
Ketua Cabang PSHT Lamongan, M. Supriyono, serta segenap keluarga besar PSHT se-Jawa Timur menyatakan solidaritas penuh dan turut merasakan luka yang dialami korban. Ikatan persaudaraan dalam PSHT bersifat sakral dan tak terpisahkan — rasa sakit yang menimpa satu saudara, adalah luka yang dirasakan oleh seluruh keluarga besar di seantero Nusantara.
Empat Sikap Resmi PSHT
Menyikapi peristiwa berdarah tersebut, Pengurus Pusat PSHT menetapkan empat sikap tegas:
1. Mengutuk Keras Tindakan Premanisme
Aksi kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan oleh oknum penagih utang tersebut dikutuk sekeras-kerasnya. Tindakan semacam itu tidak hanya melukai korban secara fisik, tetapi juga mencederai rasa aman masyarakat Surabaya secara luas. Kekerasan dengan alasan apa pun tidak memiliki tempat di Republik Indonesia.
2. Persaudaraan Tanpa Sekat
Tetesan darah dan rasa sakit yang dialami saudara kita di Surabaya turut dirasakan oleh seluruh warga PSHT di seluruh Indonesia. Ikatan persaudaraan melampaui batas wilayah maupun kepengurusan. Ketika ada saudara yang tersakiti dari luar, kita berdiri sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak tergoyahkan.
3. Desak Polisi Bergerak Cepat dan Tegas
PSHT mendukung penuh sekaligus mendesak Polrestabes Surabaya dan Polda Jawa Timur untuk segera menangkap para pelaku, mengusut tuntas siapa yang berada di balik perintah tersebut, dan menjatuhkan hukuman setimpal sesuai hukum yang berlaku. Praktik premanisme berkedok penagih utang yang bertindak sewenang-wenang harus diberantas sampai ke akar-akarnya.
4. Instruksi Satu Komando: Tetap Tenang dan Percaya Hukum
Kepada seluruh warga PSHT, khususnya di Surabaya dan Jawa Timur, ditekankan agar tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menjauhi tindakan main hakim sendiri maupun aksi balasan yang berpotensi memicu konflik baru. Tunjukkan jati diri ksatria SH Terate yang taat hukum. Kawal proses hukum secara elegan, cerdas, dan bermartabat. Mari kita satukan doa agar kedua saudara kita segera sembuh dan diberi kesabaran yang luas.
PSHT juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi ini untuk memprovokasi hal-hal yang dapat merugikan nama baik ajaran budi pekerti Setia Hati Terate.
“Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.”
Segala sifat angkara murka dan keburukan hendaklah dilenyapkan dengan kesucian hati dan kekuatan budi pekerti luhur.
Sumber berita Humas Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate












