Lhokseumawe — Bunda Literasi Kota Lhokseumawe, Yulinda Sayuti, mengajak siswa-siswi sekolah dasar untuk meningkatkan budaya literasi melalui kegiatan Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Tahun 2026 yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe di Aula Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak 19 hingga 21 Mei 2026 itu diikuti peserta dari 32 SD dan MI di Kota Lhokseumawe dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional ke-46 Tahun 2026. Lomba bertutur tahun ini mengangkat cerita rakyat sebagai tema utama untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal, meningkatkan minat baca, serta memperkuat budaya literasi sejak usia dini.
Dalam sambutannya, Yulinda Sayuti menegaskan bahwa budaya membaca perlu terus dibangun di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan yang semakin pesat. Menurutnya, literasi memiliki peran penting dalam membentuk karakter, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan berpikir serta komunikasi anak-anak.
“Lomba bertutur ini bukan hanya ajang perlombaan, tetapi juga sarana membangun keberanian, kreativitas, dan kecintaan anak-anak terhadap budaya literasi,” ujarnya.
Ia juga mengajak para orang tua dan guru untuk aktif mendampingi anak-anak dalam membiasakan membaca, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Menurutnya, budaya membaca yang ditanamkan sejak dini dapat melahirkan generasi yang cerdas, percaya diri, dan berkarakter.
Kegiatan berlangsung meriah dengan penampilan para peserta yang membawakan cerita rakyat dan kisah inspiratif di hadapan dewan juri serta tamu undangan. Pada kesempatan tersebut, Bunda Literasi turut menyerahkan hadiah kepada para pemenang sebagai bentuk apresiasi atas kemampuan dan semangat peserta dalam bertutur.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe, Misran Fuadi, menyebutkan bahwa lomba bertutur menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan minat baca dan membangun budaya literasi di kalangan generasi muda.
Menurutnya, kemampuan bertutur tidak hanya melatih keberanian tampil di depan umum, tetapi juga membantu siswa mengembangkan kemampuan komunikasi, daya imajinasi, serta pemahaman terhadap nilai budaya dan kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi wadah positif bagi siswa-siswi untuk mengembangkan kemampuan bertutur, memperluas wawasan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya membaca dan literasi,” katanya.
Pemerintah Kota Lhokseumawe menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penguatan budaya literasi dan peningkatan kualitas pendidikan sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.


















