banner 728x250

Wilson Lalengke Tegaskan “Londo Ireng” Bukan Jurnalis atau LSM, Melainkan Penguasa yang Menindas Rakyat

banner 120x600
banner 468x60

Liputan24.Com//Jakarta –

Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, menyampaikan kritik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai “Londo Ireng”. Menurutnya, penggunaan istilah tersebut tidak tepat dan berpotensi menimbulkan salah tafsir di tengah masyarakat.

banner 325x300

Dalam pernyataan tertulis yang diterbitkan di Jakarta, Senin (27/7/2026), Wilson menilai istilah “Londo Ireng” memiliki makna historis dan politis yang tidak semestinya dilekatkan kepada insan pers maupun aktivis masyarakat sipil.

Menurut Wilson, secara historis istilah tersebut merujuk pada kelompok pribumi yang menggunakan kekuasaan untuk menindas bangsanya sendiri. Ia berpendapat bahwa makna tersebut berbeda dengan peran jurnalis dan LSM yang selama ini menjalankan fungsi kontrol sosial dalam sistem demokrasi.

Wilson juga mengaitkan pandangannya dengan sejumlah pemikiran sejarah dan filsafat. Ia menyebut bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah menggunakan istilah “Londo Ireng” untuk menggambarkan kelompok penguasa yang bertindak layaknya penjajah terhadap rakyatnya sendiri.

Selain itu, ia mengutip gagasan filsuf Jean-Jacques Rousseau mengenai relasi antara penguasa dan rakyat, serta menyebut pemikiran Immanuel Kant tentang kewajiban moral seorang pemimpin sebagai landasan etik dalam menyampaikan kritik terhadap pejabat publik.

Dalam pernyataannya, Wilson menegaskan bahwa jurnalis dan LSM seharusnya dipandang sebagai bagian dari masyarakat sipil yang menjalankan fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan. Menurutnya, pelabelan terhadap kedua kelompok tersebut sebagai “Londo Ireng” berpotensi mengaburkan makna sejarah sekaligus mereduksi peran pers dan organisasi masyarakat sipil dalam kehidupan demokrasi.

Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa istilah tersebut lebih tepat ditujukan kepada penguasa yang menyalahgunakan kewenangan dan bertindak merugikan kepentingan rakyat.

*Komentar singkat saya atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “Londo Ireng”*

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut jurnalis dan LSM sebagai “Londo Ireng” jelas menimbulkan kegelisahan publik. Istilah ini sarat makna historis dan politis. Sayangnya, Prabowo Subianto salah menempatkan frasa ini dengan menempelkannya pada para wartawan dan aktivis LSM.

“Londo” hakekatnya dipahami sebagai penjajah, sementara “ireng” berarti hitam. Jika digabung, “Londo Ireng” merujuk pada kelompok bangsa berkulit ireng yang berperan sebagai penjajah. Sebagaimana pernyataan Bung Karno, “Londo Ireng” adalah kelompok warga pribumi yang ikut berperan menindas bangsanya sendiri melalui kekuasaan negara, bukan mereka yang berperan sebagai jurnalis atau aktivis LSM.

Jadi, sebenarnya pernyataan Presiden Prabowo justru mengarah pada dirinya sendiri. Fakta sederhana dapat dilihat bahwa Presiden Prabowo Subianto (juga presiden sebelumnya) berkantor di bekas kantor Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang merupakan simbol asli penjajah dari kelompok Londo Putih. Jika ada yang pantas disebut Londo Ireng, maka mereka itu adalah kelompok penguasa yang menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyatnya sendiri.

Sementara, jurnalis dan LSM berdiri di posisi sebaliknya, Mereka berperan sebagai kontrol sosial, kelompok bangsa yang tanpa pamrih, berdarah-darah memperjuangkan kepentingan rakyat, melawan praktik ketidakadilan yang dilakukan para Londo Ireng yang dikendalikan dari gedung penjajah alias istana presiden. Melabeli wartawan dan LSM sebagai Londo Ireng adalah bentuk pengaburan sejarah sekaligus pelecehan terhadap peran penting masyarakat sipil dalam negara demokrasi.

Soekarno berkali-kali menegaskan bahwa Londo Ireng adalah “kelompok pemerintah yang menjajah dan menindas rakyatnya sendiri.” Pernyataan ini relevan hingga kini, ketika sebagian terbesar penguasa lebih sibuk melanggengkan kekuasaan agar dapat terus memeras keringat rakyat daripada menegakkan keadilan dan menciptakan kejahteraan bagi rakyatnya.

Sebagaimana ditegaskan oleh filsuf Jean-Jacques Rousseau bahwa jika penguasa menindas rakyat, maka ia telah berubah menjadi penjajah. Kritik Immanuel Kant terhadap Prabowo Subianto cukup keras dengan mengatakan bahwa menyebut jurnalis dan LSM sebagai Londo Ireng adalah tindakan yang jauh dari kewajiban moral seorang pemimpin.

Oleh karena itu, jangan salah alamat. Londo Ireng bukanlah jurnalis atau LSM, melainkan penguasa yang mengkhianati rakyatnya sendiri. (**)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *