LHOKSEUMAWE – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Lhokseumawe, A. Haris, S.Sos., M.Si., membuka Festival Seni dan Budaya 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Museum Kota Lhokseumawe, Kamis (29/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan sejarah dan melestarikan kebudayaan lokal, khususnya kepada generasi muda.
Festival yang mengusung tema “Menghidupkan Sejarah dan Melestarikan Budaya Lokal” itu berlangsung di Museum Kota Lhokseumawe dan dijadwalkan selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, A. Haris mengapresiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Ia menyampaikan bahwa seni dan budaya merupakan bagian dari identitas masyarakat yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, pelestarian adat istiadat, tradisi, kesenian, dan kearifan lokal perlu terus dilakukan di tengah perkembangan zaman.
Melalui festival tersebut, Museum Kota Lhokseumawe diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan ruang pengenalan kebudayaan bagi masyarakat.
Libatkan Sekolah dari Empat Kecamatan
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe, Fauzi, S.Pd., M.Pd., mengatakan festival tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan kebudayaan Aceh kepada generasi muda.
Saat ditemui di lokasi kegiatan, Kamis (29/10/2026), Fauzi menjelaskan bahwa pameran melibatkan perwakilan sekolah dari empat kecamatan di Kota Lhokseumawe, yakni Banda Sakti, Muara Satu, Blang Mangat, dan Muara Dua.
“Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan sekolah-sekolah di empat kecamatan. Ada stan perwakilan dari jenjang SD hingga SMP untuk memamerkan kebudayaan masing-masing,” ujar Fauzi.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut memberikan ruang untuk menampilkan kreativitas sekaligus mengenal lebih dekat beragam seni dan tradisi daerah.
Sejumlah kesenian yang ditampilkan dalam festival itu antara lain tarian tradisional Aceh, Canang Ceker, rapa’i, serta berbagai kreasi seni lainnya. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan kekayaan budaya lokal melalui kegiatan edukatif yang melibatkan lingkungan sekolah.
Fauzi berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan pelajar tentang kebudayaan daerah sekaligus mendorong mereka mengembangkan potensi seni agar berpeluang meraih prestasi di tingkat kota, provinsi, hingga nasional.
Ia menambahkan, keterlibatan sekolah dari empat kecamatan dimaksudkan untuk membuka kesempatan partisipasi bagi pelajar dari berbagai wilayah di Kota Lhokseumawe.
Pameran Berlangsung Tiga Hari
Rangkaian Festival Seni dan Budaya 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Fauzi menjelaskan bahwa pada malam Jumat, aktivitas pameran diliburkan sementara dan dialihkan dengan kegiatan keagamaan, seperti pengajian atau yasinan bersama.
Pemerintah Kota Lhokseumawe turut memberikan dukungan anggaran untuk menunjang penyelenggaraan rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-8 Museum Kota Lhokseumawe. Namun, rincian nilai anggaran tersebut tidak disampaikan dalam keterangan yang tersedia.
Pembukaan festival turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Dinas Syariat Islam, Ketua dan Sekretaris Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), perwakilan Polres Lhokseumawe, para camat, perwakilan Majelis Adat Aceh (MAA) dan Mahkamah Adat, kepala sekolah, guru, seniman, budayawan, serta masyarakat.
Penyelenggaraan festival ini diharapkan dapat memperkuat pengenalan sejarah dan kebudayaan daerah sekaligus memperluas ruang partisipasi pelajar dalam pelestarian tradisi lokal.
Keberlanjutan upaya tersebut juga membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, komunitas budaya, dan masyarakat agar warisan seni serta tradisi Aceh tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi mendatang.


















